Halo, kawan-kawan, ini postingan kedua saya di blog ini, ya saya masih sangat baru untuk menjadi seorang blogger, harap maklum saja ya kawan jika nantinya saya terkesan norak di tulisan ini, karena saya banyak keterbatasannya. Oh, ya tulisan kali ini saya mencoba menulis sesuatu yang membuat saya tertantang, yaitu lomba menulis blog yang diselenggarakan D’Blogger Gorontalo support penuh oleh BlogDetik dan sponsor local.
Saya masih ingat ketika saya masih duduk dibangku SD, ditanya sama guru, mau jadi apa saya nanti, maka jawab saya waktu adalah ingin jadi orang sukses, setidaknya saya menjadi orang terbaik diantara teman-teman. Saya pun teringat teman yang ingin menjadi gubernur, meski saat itu saya tak mengerti apa itu gubernur, dan ternyata saya baru sadar bahwa gubernur adalah jabatan kepala daerah tingkat 1 yaitu di provinsi. Hhmm…saya makin ngelantur, focus ke pembahasan ah..
Menjadi gubernur itu asyik sekaligus menantang menurut pemahaman saya, disamping diberi kepercayaan untuk memimpin dan mengendalikan daerah, juga tantangannya adalah ketika diminta siap menghadapi segala tuntutan, bahkan kemungkinan terburuk, misalnya kritik pedas dari kalangan masyarakat, bahkan mungkin demonstrasi ketidak puasan, ya anggap saja itu warna dalam sendi-sendi pemerintahan, ah tahu apa saya tentang pemerintahan, wong sekolah SMA saja tidak selesai, lulus hanya karena terpaksa.
Jika saya yang menjadi gubernur, apa yang saya lakukan? Ah, tentu saja adalah mensejahterakan rakyat, meski pada dasarnya itu alasan umum mengapa seseorang ingin menjadi pemimpin, tapi itulah alasan yang paling tepat dilakukan. Sejahtera tidak hanya terbebas dari kemiskinan, sejahteta bukan berarti ekonomi lemah menjadi kaya, kemiskinan memanglah takdir kehidupan manusia yang dipasangkan dengan kaya, jadi memberantas kemiskinan bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya, dan tidak ada satu pemimpin pun didunia ini mampu memberantas kemiskinan, yang ada banyak orang yang membantu orang miskin.
Salah satu bagi dari sejahtera adalah kaya akan pendidikan, kita boleh miskin harta asal kaya akan ilmu, demikian kata pepatah bijak. Intinya adalah, membangun kesejahteraan sebaiknya dimuilai dari membangun pendidikan, dan disini pun kita masih diuji, pendidikan yang dibangun bukan sekedar gratisnya, tetapi kematangan kwalitasnya J itu yang lebih penting.
Dinamika pembangunan, mungkin juga tidak lepas dari pengembangan budaya, apalagi Gorontalo, yang juga merupakan salah kawasan adat dan budaya di Sulawesi, bahkan Gorontalo sendiri memiliki bahasa yang sangat berbeda dari bahasa lain yang sering kita dengar, dan itu menunjukkan sebuah identitas Gorontalo sebagai salah satu suku bangsa yang maju di Indonesia.
Politik? Ya, jujur saja semua tidak lepas dari politik, dinamika pemerintahan pun berawal dari politik, kehidupannya pun dibangun dari politik dan ditentukan pula oleh politik, mungkin yang ingin saya lakukan adalah membuka pola pemahaman masyarakat tentang politik santun seperti yang dibawa oleh salah satu kandidat Calon Gubernur Gorontalo beberapa waktu lalu.
Yang paling penting adalah kenyamanan, Gorontalo harus tetap damai, tidak ada pertikaian antar agama, antar masyarakat, antargolongan, kita harus bangun ketentraman, dan mengutamakan musyawarah. Gorontalo sejak masa lampau tidak dibentuk oleh perang antar raja untuk menyatukan wilayah, seperti yang terjadi pada raja-raja Jawa terdahulu, Gorontalo terbentuk menjadi sebuah wilayah yang makmur berakar dari keinginan yang sama untuk hidup bersaudara, sehingga musyawarah menjadi pilhan.
Dan itu salah satu kearifan lokal Gorontalo, mengutamakan musyawarah. Meski sering terjadi pertarungan politik panas di Gorontalo, tetapi musyawarah adalah pilihan yang baik bagi masyarakat Gorontalo.
Inilah yang saya lakukan, yang sekiranya saya direstui menjadi seorang gubernur, namun pertanyaannya adalah, apakah orang yang pendidikannnya rendah mampu menjadi pemimpin? Bagi saya tidak penting berapa nilai dibangku studinya, tetapi yang lebih penting berapa nilainya dimata masyarakat. Semoga tulisan ini bermanfaat, setidaknya bermanfaat untuk diri dan sekitar kehidupan saya.
Salam kenal,
Mohamad Jordian Febrianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar